Kajian Rutin Center Point | Kitab Syarah Aqidah Ahlussunnah Wal jama’ah – Bab Ahlussunnah Menetapkan Istiwa’ | Ustadz Fikri Al Hamdi BA

Termasuk iman kepada Allah adalah iman kepada apa yang diturunkan Allah Azza wa Jalla dalam Al-Qur-an yang telah diriwayatkan secara mutawatir dari Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam serta yang telah disepakati oleh generasi pertama dari ummat ini (para Sahabat Radhiyallahu anhum) bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala berada di atas semua langit[1], bersemayam di atas ‘Arsy[3], Mahatinggi di atas segala makhluk-Nya, Allah tetap bersama mereka dimana saja mereka berada, yaitu Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.
Sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:

ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ

“Lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy.” [Al-A’raaf: 54]

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “…Pandangan yang kami ikuti berkenaan dengan masalah ini adalah pandangan Salafush Shalih seperti Imam Malik, al-Auza’i, ats-Tsauri, al-Laits bin Sa’ad, Imam asy-Syafi’i, Imam Ahmad, Ishaq bin Rahawaih dan Imam-Imam lainnya sejak dahulu hingga sekarang, yaitu mem-biarkannya seperti apa adanya, tanpa takyif (mempersoalkan kaifiyahnya/hakikatnya), tanpa tasybih (penyerupaan) dan tanpa ta’thil (penolakan). Dan setiap makna zhahir yang terlintas pada benak orang yang menganut faham musyabbihah (menyerupakan Allah dengan makhluk), maka makna tersebut sangat jauh dari Allah, karena tidak ada sesuatu pun dari ciptaan Allah yang menyerupai-Nya. Seperti yang difirmankan-Nya:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

‘Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Dan Allah-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.’ [Asy-Syuuraa: 11]

Tetapi persoalannya adalah sebagaimana yang dikemukakan oleh para Imam, di antaranya adalah Nu’aim bin Hammad al-Khuza’i -guru Imam al-Bukhari-, ia mengatakan: ‘Barangsiapa yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, maka ia kafir. Dan barangsiapa yang mengingkari sifat yang telah Allah berikan untuk Diri-Nya sendiri, berarti ia juga telah kafir.’ Tidaklah apa-apa yang telah disifatkan Allah bagi Diri-Nya sendiri dan oleh Rasul-Nya merupakan suatu bentuk penyerupaan. Barangsiapa yang menetapkan bagi Allah Azza wa Jalla setiap apa yang disebutkan pada ayat-ayat Al-Qur-an yang jelas dan hadits-hadits yang shahih, dengan pengertian yang sesuai dengan kebesaran Allah, serta menafikan segala kekurangan dari Diri-Nya, berarti ia telah me-nempuh jalan hidayah (petunjuk).” [3]

Read more https://almanhaj.or.id/3258-ahlus-sunnah-menetapkan-istiwa-bersemayam-ahlus-sunnah-menetapkan-maiyyah-kebersamaan-allah.html

Rekaman Kajian Hang Mengaji
Kajian Rutin Center Point
Bersama : Ustadz Fikri Al hamdi BA
Dengan tema : Kitab Syarah Aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah | Bab Ahlussunnah Menetapkan Istiwa’

Tempat : Ruang Kajian Restoran Saung Sunda Sawargi – Batam Center

Yuk Follow Akun Resmi Hang Media :

Join Telegram : t.me/Hangmedia
Instagram : instagram.com/hangmedia.co.id
Facebook : bit.ly/Hang106FM
Youtube : bit.ly/HANGTV
Web : www.hangmedia.co.id

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *